Selasa, 10 November 2015

Suami Hebat itu Yang Setia kepada Istrinya

Kulihat serang laki-laki sedang menunggui seorang wanita yang terbaring lemah disalah satu bangsal rumah sakit, memang benar wanita itu adalah istrinya. Dari wajahnya terlihat lebih tua daripada suaminya, rambutnya sudah terlihat beruban. Kusapa laki-laki tersebut, langsung dibalas dengan senyuman tulus dan lepas seolah dia tidak mempunyai masalah atau beban hidup. Lalu dia bercerita mengenai kondisi istrinya yang tidak perlu diberikan tindakan serius dari dokter, perasaan lega juga tersirat dari pandangan matanya. Sesekali istrinya memanggil-manggil dengan suara yang tidak jelas, dengan sabar laki-laki tersebut menjawab pertanyaan-pertanyanan si istri. Aku sendiripun tidak tahu apa yang dikatakan wanita itu karena memang dia sudah tidak bisa bicara dengan suara lantang dan jelas seperti orang sehat, yaaa yang aku tahu memang istrinya ada gangguan di syarafnya sehingga sulit berbicara dan mengingat. Denganku awalnya dia tahu, tapi setelah beberapa menit dia lupa lalu harus bertanya kepada suaminya, "mas, itu sapa?", dia bertanya sambil menunjuk ke arahku. Dengan sabar laki-laki tersebut menjelaskan.

Sengaja aku tidak buru-buru pulang karena aku harus membantu menjaga wanita itu selama suaminya pergi keluar sebentar untuk sholat atau mandi. Selain itu juga menunggu saudara yang lain untuk datang menjemputnya karena sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Yaaa memang laki-laki dan wanita tersebut masih saudara sepupuku. Melihat pemandangan di depanku aku bisa merasakan keikhlasan di wajah sepupuku, yang dengan sabar dan ikhlas merawat istrinya di rumah sakit. Bahkan aku sering mendengar dari saudara yang lain jika istrinya di rumah tidak bisa mengerjakan pekerjaan seorang istri karena sakit-sakitan. Dia tidak pernah merasakan masakan si istri, tidak pernah mendengar suara manja si istri, tidak pernah merasakan pijatan tangan si istri, dan tidak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang bapak. Memang sepupuku ini tidak memiliki anak. Bahkan jika ada saudara yang mempunyai hajatan, Dia tidak bisa membawa istrinya untuk ikut berkumpul atau bertemu dengan saudara-saudara yang lain. Betapa mirisnya hati jika melihat orang lain datang dengan membawa anak atau istri mereka, mereka bisa tertawa lepas, mereka bisa dengan sesuka hati menghabiskan waktu di tempat saudara yang mempunyai hajatan tersebut. Namun tidak untuk dia, dia datang atau pergi hanya sebentar, sisanya menghabiskan waktu untuk merawat istrinya di rumah.

Sesekali orang tua dan saudara-saudara yang lain mengatakan jika dia punya istri tetapi yang ada dia melah merawat bayi tua yang sakit-sakitan. Tapi dia tidak pernah mendengarkan perkataan orang lain walaupun pasti didalam hatinya juga sedih melihat kondisi istrinya. Dia bisa saja mencari istri lain, yang sehat, lebih muda, lebih cantik yang bisa melayaninya sebagaimana tugas istri kepada suami. Namun tidak dia lakukan, dia tetap setia dengan istrinya walapun begitu keadaanya. Lalu atas dasar apa dia mampu bertahan? Harta? Tentu bukan karena istrinya bukanlah orang kaya yang mempunyai jabatan tinggi atau pekerjaan mapan. Anak? Tentu bukan lagi. Memang inilah yang disebut "CINTA" tidak mengenal lelah, waktu, usia dan tidak melihat kekurangan. Dan karena Nya yang Maha Sempurna dia mengikhlaskan diri untuk merawat istrinya dengan sabar.... 

Semoga Allah membalas semua yang kau berikan untuk istrimu, mungkin tidak di dunia tetapi di surgaNya kelak... Aminnnn

2 komentar: